Senin, 13 Oktober 2014

EXO FANFICTION from EXONESIA PLANET

Red Camellia
Aku masih berdiri di sudut perpustakaan yang sepi. Bersembunyi di balik rak buku yang berada tepat berseberangan dengan tempat duduk gadis bernama Park Hyemi itu. Masih asyik mengamati dan mencuri setiap ekspresinya dari jauh. Sebuah kebiasaan baru yang tak pernah kutinggalkan semenjak pertamakali melihatnya di tempat ini dua tahun lalu. 
Tanganku yang masih gemetar, sejak tadi terus menggenggam sebuket bunga red camellia yang dirangkai apik dan dihiasi pita cantik berwarna merah hati. Kata orang red camellia melambangkan rasa cinta yang terus menyala. Maka aku sengaja memilih bunga itu agar Hyemi tahu bahwa perasaan cintaku padanya akan terus menyala dan tak akan pernah padam. Romantis bukan? Tapi bagaimana mungkin perasaanku akan tersampaikan jika untuk mendekatinya saja aku masih belum punya nyali.
Lihat saja, sejak tadi keringat terus membanjiri keningku. Jantungku berdegup tak beraturan. Sementara itu dua sisi hatiku masih saling berdebat apakah aku harus menyerahkan buket bunga itu padanya atau tidak.  Keberanian. Itu yang kubutuhkan saat ini. Setelah memendam perasaan padanya selama dua tahun, haruskah aku menyerah dan berakhir sebagai pencundang? Tentu tidak! Ini saatnya. Ini waktu yang tepat untuk menyatakan perasaanku padanya.
Kuberanikan diri melangkah mendekatinya. Suara ketukan sepatuku menggema di ruang perpustakaan yang sepi dan lengang. Kuatur nafas, berusaha menenangkan ritme jantungku sekaligus menekan rasa gugup yang seolah tak mau pergi sejak tadi. Keringat di keningku tak lagi bertimbulan, tapi sudah menyungai membasahi wajahku yang kutebak pastilah sudah memucat seperti mayat. Aura dingin menyelimuti tubuhku, seperti baru saja dilemparkan paksa ke salju abadi di puncak Himalaya. Kakiku semakin lama semakin tak bertenaga. Seolah-olah semua tulang yang menopangnya melunak secara tiba-tiba seperti habis dipresto. Dan ketika berada tepat di dekatnya, nyawaku seperti melayang jauh meninggalkan raga, karena aku sama sekali tak bisa bergerak, bahkan untuk sekedar melontarkan sapaan sederhana padanya.
“Kyungsoo Sunbae.. “ gadis berambut cokelat itu menghentikan aktivitas membacanya lalu mengalihkan perhatiannya padaku yang kini sudah berdiri tepat di seberang mejanya. Ia terus mengamatiku yang hanya melongo sambil menggenggam buket red camellia seperti orang dungu.
“Kyungsoo Sunbae, kau baik-baik saja kan? Ada yang bisa kubantu?” Tanya gadis itu khawatir. sambil menutup buku setebal 560 halaman yang sejak tadi dibacanya lalu menaruhnya spontan di atas meja sehingga menimbulkan bunyi debuman yang cukup keras.
“Ne.. aku baik-baik saja.. Hyemi-ah.. emh.. aku.. aku…” sial! Aku tak pernah tahu bahwa menyatakan cinta bisa sesulit ini. Ayolah… kau pasti bisa Kyungsoo. “Hyemi..aku…”
“Cantik sekali, itu red camellia kan?” belum sempat kulanjutkan kalimatku, Hyemi tiba-tiba menyela ucapanku. Gadis itu menunjuk buket red camellia di tanganku dengan antusias.
“Ya.. “ jawabku pendek. Hyemi bergegas bangkit dari kursinya, lalu beranjak mendekatiku. Membuatku semakin salah tingkah dibuatnya.
“Sunbae.. apa kau tahu, setiap bunga punya arti tesendiri?” aku hanya diam saja, tak begitu merespon ucapannya. Bukannya karena tak ingin, tapi karena aku belum bisa mengendalikan rasa terkejutku atas sikapnya yang benar-benar tak terduga.
“Sunbae.. setiap bunga punya maknanya tersendiri. Contohnya jasmine yang melambangkan kesucian cinta, edelwais yang melambangkan keabadian dan red camellia….”
“melambangkan cinta abadi yang akan terus menyala..” kini giliranku menyela ucapannya. Ia tampak sedikit terkejut dengan ucapanku yang tiba-tiba. “ternyata sunbae tahu banyak juga tentang bunga..” pujinya sambil tersenyum tulus. Memamerkan lesung pipit di pipi kirinya yang membuatnya terlihat semakin manis.
“Ah.. tidak.. aku hanya tahu sedikit..” sanggahku cepat sambil buru-buru menundukan wajah karena malu. Aku yakin pasti wajahku sekarang sudah memerah seperti red camellia di tanganku.
“jadi.. tadi sunbae ingin bicara apa? Apa ada sesuatu yang penting?” Tanya gadis itu lagi. Kuberanikan diri mengangkat wajah lalu menatap tepat ke arah mata hazelnya yang selalu tampak jernih. Detik berikutnya kukumpulkan nyali untuk menyerahkan buket red camellia itu padanya. “untukmu…” katakku pelan.
“Untukku?” Hyemi menatapku tak percaya yang hanya kubalas dengan sebuah anggukan kecil untuk meyakinkannya. “Ah.. terimakasih sunbae… tapi.. kenapa sunbae memberikan ini padaku?” gadis itu menyipitkan matanya. Lalu menatapku dengan tatapan menyelidik.
“Tentu saja karena aku menyukaimu.. sudah sejak lama dan aku….”
“Hyemi..” belum sempat kuselesaikan kalimatku, sebuah suara membuatku tersentak. Seorang cowok tinggi berambut blonde berjalan kearah kami. Kris. Aku mengenalnya karena kami berada di kelas yang sama sejak kelas satu. Meskipun begitu, hubungan kami tak bisa dikatakan baik. Aku dan Kris seperti dilahirkan untuk saling bersaing. Ia adalah rival terberatku dalam berbagai hal. Entah itu akademik, olahraga bahkan popularitas. Dan aku benar-benar pensaran kenapa cowok menyebalkan ini memanggil Hyemi. Apa mereka saling mengenal?
Namun rasa penasaranku segera berubah menjadi rasa terkejut ketika kulihat ekspresi Hyemi yang berubah ketika Kris datang. Gadis itu tersenyum cerah lalu menyambut kedatangan cowok itu dengan hangat.
“Oppa.. kau terlambat, aku sudah menunggumu sejak tadi, kupikir kau lupa rencana nonton kita hari ini…” Ujar gadis itu manja.
 “Ah.. ya.. maaf, oppa ada keperluan dulu di ruang guru. jadi.. kita berangkat sekarang Hyemiku yang manis?” Kris membelai rambut Hyemi mesra. Dan aku hanya menjadi penonton drama romantis mereka siang itu.
“Kyungsoo? Apa yang kau lakukan?” Kris bertanya dengan nada suara yang terdengar memuakkan sambil menatapku remeh. “kau tidak sedang menggoda pacarku kan?” Ia tersenyum sinis. Pacar?? Mereka pacaran?? Sejak kapan?? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.
“Oppa, jangan salah faham, kami hanya mengobrol biasa. Benar kan Sunbae?” Hyemi melemparkan pandangan ke arahku. Seolah meminta dukungan agar Kris tak menuduh kami melakukan sesuatu yang macam-macam.
“Oppa, Ayo, kita berangkat sekarang..” Hyemi melingkarkan tangannya di lengan Kris.
“Sunbae.. terimakasih bunganya.. tapi maaf aku tidak bisa menerimanya…” Hyemi membungkukan tubuhnya sembilan puluh derajat setelah menyerahkan kembali buket red camellia itu padaku. Kemudian ia pergi meninggalkanku sambil bergelayut manja di lengan Kris yang masih terus melemparkan tatapan mengejek ke arahku. Sampai sosok keduanya menghilang dari pandanganku, aku masih tertegun di tempatku berdiri. Masih melongo dengan mulut terbuka, seperti orang bodoh.
Kurasakan detak jantungku masih tak beraturan. Tubuhku masih gemetar. Dan kakiku masih lemas seperti tak bertulang. Bukan. Kali ini bukan karena aku sedang jatuh cinta, melainkan karena aku sedang patah hati.
Kembali kutatap buket red camellia di tangan kananku. Cinta yang terus menyala??  Ah.. omong kosong.. kenyataannya perasaan cinta yang sudah kupelihara selama dua tahun lamanya bisa semudah itu padam hanya dalam beberapa detik saja.