Aku masih berdiri di sudut perpustakaan yang sepi.
Bersembunyi di balik rak buku yang berada tepat berseberangan dengan tempat
duduk gadis bernama Park Hyemi itu. Masih asyik mengamati dan mencuri setiap
ekspresinya dari jauh. Sebuah kebiasaan baru yang tak pernah kutinggalkan
semenjak pertamakali melihatnya di tempat ini dua tahun lalu.
Tanganku yang masih gemetar, sejak tadi terus
menggenggam sebuket bunga red camellia yang dirangkai apik dan dihiasi pita
cantik berwarna merah hati. Kata orang red camellia melambangkan rasa cinta
yang terus menyala. Maka aku sengaja memilih bunga itu agar Hyemi tahu bahwa
perasaan cintaku padanya akan terus menyala dan tak akan pernah padam. Romantis
bukan? Tapi bagaimana mungkin perasaanku akan tersampaikan jika untuk
mendekatinya saja aku masih belum punya nyali.
Lihat saja, sejak tadi keringat terus membanjiri
keningku. Jantungku berdegup tak beraturan. Sementara itu dua sisi hatiku masih
saling berdebat apakah aku harus menyerahkan buket bunga itu padanya atau
tidak. Keberanian. Itu yang kubutuhkan
saat ini. Setelah memendam perasaan padanya selama dua tahun, haruskah aku menyerah
dan berakhir sebagai pencundang? Tentu tidak! Ini saatnya. Ini waktu yang tepat
untuk menyatakan perasaanku padanya.
Kuberanikan diri melangkah mendekatinya. Suara
ketukan sepatuku menggema di ruang perpustakaan yang sepi dan lengang. Kuatur
nafas, berusaha menenangkan ritme jantungku sekaligus menekan rasa gugup yang
seolah tak mau pergi sejak tadi. Keringat di keningku tak lagi bertimbulan,
tapi sudah menyungai membasahi wajahku yang kutebak pastilah sudah memucat
seperti mayat. Aura dingin menyelimuti tubuhku, seperti baru saja dilemparkan
paksa ke salju abadi di puncak Himalaya. Kakiku semakin lama semakin tak
bertenaga. Seolah-olah semua tulang yang menopangnya melunak secara tiba-tiba
seperti habis dipresto. Dan ketika berada tepat di dekatnya, nyawaku seperti
melayang jauh meninggalkan raga, karena aku sama sekali tak bisa bergerak,
bahkan untuk sekedar melontarkan sapaan sederhana padanya.
“Kyungsoo Sunbae.. “ gadis berambut cokelat itu
menghentikan aktivitas membacanya lalu mengalihkan perhatiannya padaku yang
kini sudah berdiri tepat di seberang mejanya. Ia terus mengamatiku yang hanya
melongo sambil menggenggam buket red camellia seperti orang dungu.
“Kyungsoo Sunbae, kau baik-baik saja kan? Ada yang
bisa kubantu?” Tanya gadis itu khawatir. sambil menutup buku setebal 560
halaman yang sejak tadi dibacanya lalu menaruhnya spontan di atas meja sehingga
menimbulkan bunyi debuman yang cukup keras.
“Ne.. aku baik-baik saja.. Hyemi-ah.. emh.. aku..
aku…” sial! Aku tak pernah tahu bahwa menyatakan cinta bisa sesulit ini.
Ayolah… kau pasti bisa Kyungsoo. “Hyemi..aku…”
“Cantik sekali, itu red camellia kan?” belum sempat
kulanjutkan kalimatku, Hyemi tiba-tiba menyela ucapanku. Gadis itu menunjuk
buket red camellia di tanganku dengan antusias.
“Ya.. “ jawabku pendek. Hyemi bergegas bangkit dari
kursinya, lalu beranjak mendekatiku. Membuatku semakin salah tingkah dibuatnya.
“Sunbae.. apa kau tahu, setiap bunga punya arti
tesendiri?” aku hanya diam saja, tak begitu merespon ucapannya. Bukannya karena
tak ingin, tapi karena aku belum bisa mengendalikan rasa terkejutku atas
sikapnya yang benar-benar tak terduga.
“Sunbae.. setiap bunga punya maknanya tersendiri. Contohnya
jasmine yang melambangkan kesucian cinta, edelwais yang melambangkan keabadian
dan red camellia….”
“melambangkan cinta abadi yang akan terus menyala..”
kini giliranku menyela ucapannya. Ia tampak sedikit terkejut dengan ucapanku
yang tiba-tiba. “ternyata sunbae tahu banyak juga tentang bunga..” pujinya
sambil tersenyum tulus. Memamerkan lesung pipit di pipi kirinya yang membuatnya
terlihat semakin manis.
“Ah.. tidak.. aku hanya tahu sedikit..” sanggahku
cepat sambil buru-buru menundukan wajah karena malu. Aku yakin pasti wajahku
sekarang sudah memerah seperti red camellia di tanganku.
“jadi.. tadi sunbae ingin bicara apa? Apa ada
sesuatu yang penting?” Tanya gadis itu lagi. Kuberanikan diri mengangkat wajah
lalu menatap tepat ke arah mata hazelnya yang selalu tampak jernih. Detik
berikutnya kukumpulkan nyali untuk menyerahkan buket red camellia itu padanya.
“untukmu…” katakku pelan.
“Untukku?” Hyemi menatapku tak percaya yang hanya
kubalas dengan sebuah anggukan kecil untuk meyakinkannya. “Ah.. terimakasih
sunbae… tapi.. kenapa sunbae memberikan ini padaku?” gadis itu menyipitkan
matanya. Lalu menatapku dengan tatapan menyelidik.
“Tentu saja karena aku menyukaimu.. sudah sejak
lama dan aku….”
“Hyemi..” belum sempat kuselesaikan kalimatku,
sebuah suara membuatku tersentak. Seorang cowok tinggi berambut blonde berjalan
kearah kami. Kris. Aku mengenalnya karena kami berada di kelas yang sama sejak
kelas satu. Meskipun begitu, hubungan kami tak bisa dikatakan baik. Aku dan
Kris seperti dilahirkan untuk saling bersaing. Ia adalah rival terberatku dalam
berbagai hal. Entah itu akademik, olahraga bahkan popularitas. Dan aku
benar-benar pensaran kenapa cowok menyebalkan ini memanggil Hyemi. Apa mereka
saling mengenal?
Namun rasa penasaranku segera berubah menjadi rasa
terkejut ketika kulihat ekspresi Hyemi yang berubah ketika Kris datang. Gadis
itu tersenyum cerah lalu menyambut kedatangan cowok itu dengan hangat.
“Oppa.. kau terlambat, aku sudah menunggumu sejak
tadi, kupikir kau lupa rencana nonton kita hari ini…” Ujar gadis itu manja.
“Ah.. ya..
maaf, oppa ada keperluan dulu di ruang guru. jadi.. kita berangkat sekarang
Hyemiku yang manis?” Kris membelai rambut Hyemi mesra. Dan aku hanya menjadi
penonton drama romantis mereka siang itu.
“Kyungsoo? Apa yang kau lakukan?” Kris bertanya
dengan nada suara yang terdengar memuakkan sambil menatapku remeh. “kau tidak
sedang menggoda pacarku kan?” Ia tersenyum sinis. Pacar?? Mereka pacaran??
Sejak kapan?? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.
“Oppa, jangan salah faham, kami hanya mengobrol
biasa. Benar kan Sunbae?” Hyemi melemparkan pandangan ke arahku. Seolah meminta
dukungan agar Kris tak menuduh kami melakukan sesuatu yang macam-macam.
“Oppa, Ayo, kita berangkat sekarang..” Hyemi
melingkarkan tangannya di lengan Kris.
“Sunbae.. terimakasih bunganya.. tapi maaf aku
tidak bisa menerimanya…” Hyemi membungkukan tubuhnya sembilan puluh derajat setelah
menyerahkan kembali buket red camellia itu padaku. Kemudian ia pergi
meninggalkanku sambil bergelayut manja di lengan Kris yang masih terus
melemparkan tatapan mengejek ke arahku. Sampai sosok keduanya menghilang dari
pandanganku, aku masih tertegun di tempatku berdiri. Masih melongo dengan mulut
terbuka, seperti orang bodoh.
Kurasakan detak jantungku masih tak beraturan.
Tubuhku masih gemetar. Dan kakiku masih lemas seperti tak bertulang. Bukan.
Kali ini bukan karena aku sedang jatuh cinta, melainkan karena aku sedang patah
hati.
Kembali kutatap buket red camellia di tangan
kananku. Cinta yang terus menyala?? Ah..
omong kosong.. kenyataannya perasaan cinta yang sudah kupelihara selama dua
tahun lamanya bisa semudah itu padam hanya dalam beberapa detik saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar